Linda dan Owen Wells saling berpelukan di dalam pintu masuk sebuah gedung pemerintahan yang agak gelap di Changsha, Cina. Mereka tengah menunggu "bus bayi". Setelah berbulan-bulan melalui carut-marut birokrasi, pasangan Amerika itu akhirnya datang ke Cina untuk mengadopsi seorang anak.
Linda berperawakan pendek, cantik dan penuh semangat, berjalan mondar-mandir sambil membolak-balik dokumen yang ia pegang, popok, dan botol susu. Sementara Owen tampak kelelahan setelah penantian panjangnya, tapi terlihat tenang, memandang keluar jendela dengan tatapan penuh harap. Akhirnya, ia melihat sebuah van datang. Sembilan wanita muda - perawat anak yatim- keluar dengan menggendong sesuatu berbungkus kain yang tampak menggeliat di tangan mereka.
Pasangan itu segera mengenali bayi yang mereka lihat dari foto yang mereka terima beberapa bulan sebelumnya. Tubuhnya bulat, mengenakan kain berlapis tujuh dengan topi rajutan menutupi kepala kecilnya.
Salah satu perempuan tadi menyerahkan bayi itu dengan hati-hati kepada Linda, yang matanya mulai dibasahi air mata. Bayi berumur satu tahun itu menangis sehingga Linda menyerahkan kembali kepada si perawat. Owenlah yang bisa menenangkan bayi itu. Ia mendekapnya dan lalu menggosokkan pipinya pada pipi sang bayi. Dalam beberapa detik, si bayi berhenti menangis dan merapatkan badannya ke Owen. Kepalanya menyandar pada lekukan leher Owen yang hangat dan akhirnya tertidur. Sepertinya mereka cocok satu sama lain.
Petualang yang energetik dari Barat, Owen dan Linda, bertemu 17 tahun lalu di sekolah khusus pilot di pinggiran Albuquerque, New Mexico. Owen ditaksir oleh seseorang perempuan ramping dan atletis yang keluar dari mobilnya di tempat parkir. "Aku mencari diam-diam nama dan nomor teleponnya di buku penerbangan," katanya. Mereka menikah delapan bulan kemudian.
Owen adalah mantan angkatan laut yang sukses berbisnis di bidang desain grafis dan percetakan, sedangkan Linda adalah single mother dengan tiga anak, bekerja sebagai perawat dan sedang mengejar gelar sarjana hukum. Ia bergabung di sebuah lembaga hukum dan menangani berbagai kasus penculikan anak.
Fokus profesinya tersebut membuatnya menyadari kembali keinginan lamanya - mengadopsi seorang anak yatim dari Cina. Waktunya sudah tepat. Tiga anak Linda kini sudah tidak lagi bersamanya. Ia dan Owen sama-sama menyukai anak-anak. Maka pada ulang tahun perkawinan yang ke-15, mereka memutuskan untuk membawa anak lain kedalam keluarga. Dibutuhkan waktu hampir dua tahun untuk mendapatkannya, tapi akhirnya mereka berhasil mendekap anak itu di tangan mereka.
Mereka memberi nama sang bayi, Kailee. "kami akan selalu menjagamu," begitu janji mereka. "Kau tak akan sendirian lagi."
Linda dan Owen membawa Kailee pulang ke New Mexico dimana ia tumbuh dengan cepat, pintar, baik hati dan ramah. Dihangatkan oleh matahari New Mexico, Kailee tumbuh menjadi anak gadis yang ramping dan sehat.
Tampaknya, masa depan Kailee akan diraihnya dengan baik-baik saja.

Kailee dalam masa-masa bahagia di musim panas 2000, semasa kunjungan keluarga ke Taman Nasional Rocky Mountain, Colorado
Beberapa hari setelah pesta ulang tahun kelima pada medio Januari 2002, Kailee terserang flu. Ketika suhu tubuhnya mencapai 40 derajat Celcius, Linda dan Owen membawanya ke rumah sakit. Mereka diberitahu bahwa Kailee terinfeksi virus, karenanya bocah lucu itu harus diberi Tylenol, jus jeruk, dan istirahat.
Malam itu, 15 Januari, udara dingin Albuquerque begitu menusuk tulang. Pasangan suami istri itu memilih tinggal didalam rumah kayu mereka sambil menunggu Kailee yang tengah berjuang melawan demam. Mereka memberinya Tylenol, membaringkannya ke atas ranjang dan memadamkan lampu.
Menjelang tengah malam Kailee terbangun. Bagian atas piyamanya terasa basah. Dengan menahan kepala pusing dan demam, ia menuruni tangga menuju kamar kedua orangtuanya dan kemudian duduk disamping Linda. "Mama," katanya. "Hidungku berdarah."
Linda kaget, lalu menyalakan lampu. Kailee sudah berlumuran darah. Piyamanya memerah akibat basah kuyup oleh darah. Bercak-bercak merah darah terlihat di lantai kayu di sepanjang lintasan jalannya.
Linda memeluk Kailee sementara Owen berlari mengambil handuk. Ia pernah mimisan sebelum ini, namun tidak separah ini. Owen dan Linda berdebat apakah mereka harus menerjang dinginnya malam menuju rumah sakit. Namun, begitu aliran darah di hidung Kailee mereda, dengan ragu-ragu, mereka meminta Kailee tidur di tengah mereka. Linda tidur dengan baju lengkap dan mengenakan sepatu, sebagai persiapan untuk pergi cepat-cepat kalau terjadi keadaan darurat.
Keesokan paginya, mereka membawa Kailee ke Northside Pediatrics Clinic di Albuquerque. Begitu sampai di pintu, dokter anak Kailee memandangi wajah pucat Kailee dan langsung menyarankan Owen dan Linda untuk membawa anak itu ke Presbyterian Hospital. "Kesana sekarang juga!" kata dokter.
Owen menurunkan keduanya di depan pintu masuk rumah sakit itu dan Linda segera membawa Kailee langsung ke lantai enam, di kamar G, bagian ICU.
Kailee mengangkat kedua tangannya dan berdiri dengan tenang ketika Linda mengenakan baju pasien kepadanya. Para perawat dan tenaga medis saling bergegas, memeriksa jantung Kailee dan menimbangnya, sementara Linda mengisi formulir admistrasi. Ketika Kailee sudah berbaring di depan, tenaga medis menusukkan jarum ke lengannya untuk mengambil darah. Dokter menyarankan transfusi darah, aspirasi tulang sumsum dan bipsi esok harinya.
"Biopsi yang seperti apa?" Owen bertanya penasaran. "Apakah bakal terasa sakit?"
Para dokter menjelaskan bahwa kailee akan dibius dan tidak akan mengingat apa pun. Dengan kata lain, Owen tahu bahwa itu akan sakit.
Prosedr biopsi itu menggunakan sebuah jarum dengan ujung yang berulir, yang akan dimasukkan melalui daging ke tulang panggul. Lalu, ujung jarum itu akan membor tulang menembus kedalam sumsum dan mengambil sampel disana.
Sesaat setelah sadar, Kailee mulai terkekeh. "mengapa ada balon disana?" katanya gembiar sambil menunjuk ke arah bawah di kaki depannya. Padahal tak satu pun balon terlihat disana.

Kailee membenci terapi rutinnya tiap bulan utk mencegah infeksi paru. "Bernafas selama 15 menit rasanya sungguh mengerikan," kenang Linda.
Tak berapa lama, pasangan Wells menerima hasil pemeriksaan awal. Seorang dokter memberitahu Linda bahwa seluruh komponen di dalam darahnya turun - sel darah merah, sel darah putih, dan platelet. Linda tahu, yang terakhir itu merupakan faktor terpenting dalam hal pembekuan darah. Itu menjelaskan mengapa terjadi pendarahan, tapi apa penyebabnya? Pikiran mengerikan menghinggapi kepalanya. "Apakah leukimia?" ia bertanya.
Ketika diberitahu bahwa bisa jadi hal itu akibat virus, reaksi dari ibuprofen, leukimia atau sesuatu yang lebih buruk, Linda kembali bertanya, "Lebih buruk bagaimana?"
"Aplastic anemia," sahut dokter.
Setelah melalui akhir minggu yang penuh kekhawatiran, hasil akhir pemeriksaan mereka terima pada Senin. Owen dan Linda dipanggil untuk konsultasi. Dokter memberitahu, Kailee menderita aplastic anemia berat, dimana sumsum tulang berhenti memproduksi sel darah merah, sel darah putih dan platelet yang sangat penting untuk hidup. Sebuh kelainan yang sangat langka, yang diderita tiga diantara sejuta orang di Amerika Serikat dan 15 diantara sejuta orang di Asia.
Linda dan Owen hampir pingsan mendengarnya. "jadi bagaimana kesimpulannya?" tanya Owen. Kailee, kata dokter, hanya bisa bertahan hidup tiga bulan, jika tidak mendapatkan perawatan yang tepat.
Owen mengempaskan tubuhnya di sandaran kursi. Tapi Linda bangkit berdiri dan memukul meja. "Tidak !" jeritnya. "Tidak mungkin."
Pada Selasa, 22 Januari 2002, Kailee dipindahkan ke University of New Mexico Hospital, rumah sakit khusus anak-anak. Pada Rabu, dokter menyarankan biopsi lagi, biopsi kedua dari lebih 20 tindakan lain yang harus dilakukan pada Kailee. Linda dan Owen diberitahu bahwa sel punca (stem cell) darah di sumsum tulang Kailee hampir mati sepenuhnya. Kadar sel darah merah, putih, dan platelet amat sangat rendah.
Transplantasi sel punca darah dari donor yang sesuai merupakan pengobatan yang optimal untuk aplastic anemia yang diderita anak-anak. Menurut dokter, sel punca darah yang sesuai bisa diambil dari keluarga penderita. Tapi, karena kerabat Kailee tidak diketahui, staf rumah sakit harus memeriksa database donor yang ada.
Ada 3,6 juta donor yang terdaftar di AS waktu itu. Namun tak satu pun yang sesuai dengan Kailee. Pekerja sosial dari rumahs akit memberitahu Linda dan Owen, untuk menemukan sel punca darahyang sesuai itu mustahil. Sebaiknya, ia menyarankan, dicarikan pengobatan yang menggunakan metode lain.
Pengobatan yang dianggap terbaik kemudian adalah menyuntikkan antithymocyte globulin (ATG), sebuah serum yang diambil dari darah kuda, ke dalam aliran darah Kailee, bersama dengan steroid dan cysclosporine, obat yang membantu menekan sistem imun, seperti juga ATG. Dalam kasus aplastic anemia, sistem imun menyerang dan membunuh sel punca darah penderitanya.
Namun seperti halnya kemoterapi, terapi ATG juga menyebabkan pasien letih, lemah dan mudah marah. Wajah dan juga tubuh Kailee mulai bengkak akibat steroid. Bulu-bulu rambutnya tumbuh dan disaat yang sama, begitu juga kemarahannya.
Tak lama setelah menjalani salah satu terapi, Owen datang menjenguknya. Setelah membersihkan badannya, mengenakan baju rumah sakit dan masker, dia menarik sebuah kursi dan duduk di dekat Kailee. Kailee tak sekalipun meliriknya. Ia sedang sibuk dengan sebuah buku mewarnai dan wajahnya tampak marah.
"Mau dibacakan buku, Sayang?" Owen bertanya. Kailee menolak dan mulai menekan kuat-kuat krayonnya. Owen mencoba menenangkannya dengan mengajaknya ngobrol.
"Jangan sekarang, Ayah," ia menjerit. "Aku nggak mau!" Ia merobek halaman-halaman buku itu, meremasnya, lalu melemparkannya ke sisi lain kamar. "Pergi ! Pergi !"
Owen memindahkan kembali kursi itu ke samping. Kailee bukan lagi gadis kecil yang ia kenal.
Setelah sekitar 10 hari di ICU, Kailee diizinkan pulang. Namun, itu adalah awal dari pengobatan jagnka panjang selama lebih dari dua bulan akibat gangguan kesehatan yang menimpanya. Ia terserang demam dan terus menerus mengalami mimisan hebat, yang berarti butuh lebih banyak lagi tranfusi darah dan steroid. Owen dan Linda hanya bisa menghadapinya dengan pasrah.
Ketika penyakitnya menampakkan kemajuan, pasangan itu memutuskan menjual rumahnya untuk membeli rumah di dekat rumah sakit.
Terapi ATG yang dijalani Kailee ternyata tidak membuahkan hasil. Linda pun mencari alternatif lain dan menemukan seorang dokter yang tampaknya memberikan harapan. Dia adalah Dr. David Margolis, spesialis transplantasi sumsum tulang anak di RS Anak Wisconsin dan merupakan salah satu ahli aplastic anemia di negara itu. "Saya tidak berjanji menyembuhkan ia," kata Margolis di pesawat telepon, "tapi saya akan melakukan segala kemungkinan dan merawatnya seperti anak sendiri."
Sebelum keluarga itu menempati rumah barunya di Albuquerque, Kailee dan sang mama pergi ke Milwaukee untuk menjalani pengobatan. Owen ditinggalkan di sebuah tempat yang jauh dari rasa nyaman dibandingkan rumahnya. Sepanjang hari itu ia mengerjakan tugas-tugasnya dari tempat kerjanya : sebuah kamar yang hanya dibatasi lemari arsip dan beberapa kotak yang setengah terbuka.
Malam harinya, ia masih duduk di kursi yang sama, sibuk dengan komputer atau telepon, bekerja demi nyawa putrinya - mencarikan donor yang coock. Usaha yang berat pada awalnya, tapi tidak butuh waktu lama, ia pun terhubung ke National Marrow Donor Program.
Di Milwaukee, Kailee berjalan malu-malu di dalam Klinik Hematologi / Onkologi di RS Anak Wisconsin. Dr. Margolis menyambutnya dengan stetoskop pink yang melingkari lehernya. Kailee suka cara dokter itu memandangnya, tenang dan tidak menakutkan.
Salah satu keterampilan Margoli adallah memahami bagaimana mengomunikasikan masalah medis yang kompleks kepada orang tua yang panik. "Bayangkan sebuh kebun yang bibit-bibit tanamannya dirusak oleh sesuatu," ia memberitahu mereka. "Sel punca darah seperti bibit-bibit itu. Mereka memproduksi darah. Jika mereka mati atau kering di dalam sumsum tulang, maka kebun itu akan kacau." Maka, yang harus dilakukan, ujar Margolis, adalah menemukan cara untuk memulihkan kembali bibit-bibit tersebut.
Kailee dan ibunya tinggal di Kathy's House, rumah khusus dimana para keluarga dapat tinggal, sementara anggota keluarga tercintanya menjalani pengobatan di rumah sakit. Rumah itu menjadi tempat tinggalnya selama 5 bulan, sejak 5 Mei hingga 9 Oktober 2002.
Ada sebuah taman di dekat rumah itu. Disela-sela hari pengobatannya dan saat dia merasa kuat, Kailee bermain ayunan disana. Ia tampak menikmati ketika tubuhnya melayang di udara. Ada rasa lega dan senang karena ia terbebas dari kebosanan kunjungan rumah sakit berhari-hari.
Di malam hari, Kailee menghabiskan waktunya dengan melihat-lihat buku bergambar atau menonton televisi. Ia tak bisa lagi bermain bersama anak-anak lainnya untuk mencegah tertular virus lain. Karena itu ia dan Linda melewatkan kejenuhan di dalam kamar dengan menonton TV dan bernyanyi bersama.
Lama-lama, masa isolasi itu menyebabkan mereka stres. Ini menyebabkan Linda merindukan Owen.
Di sisi lain, Dr. Margolis telah mencoba beberapa pengobatan yang berbeda pada Kailee, dan tidak berhasil.
Putus asa menjalani upayanya menyelamatkan hidup Kailee, Owen bekerja sama dengan National Marrow Donor Program mengembangkan jaringan di Honolulu dan San Fransisco, dimana ia berharap meraih populasi yang lebih besar dari orang-orang yang berdarah Asia. Upayanya tersebut telah meningkatkan simpati masyarakat - kisah Kailee ditayangkan televisi - tapi meski begitu, tetap saja mereka tidak menemukan donor yang cocok dengan tubuh Kailee.
Beberapa saat setelah mengantarkan Kailee berobat, Linda kembali ke Albuquerque untuk berakhir pekan. Ia berjalan melewati rumah yang tak dikenal dimana Owen tinggal di lua nya. Kotak-kotak kayu tersusun tak beraturan ; beberapa meja dan kursi teronggok dimana-mana seperti dalam gudang. Baju-baju dan beberapa barang pribadinya hilang tertimbun di tengah keporakporandaan itu. Kondisinya sungguh kacau. Dia dan Owen saling memandang seperti orang asing. Malam itu dia tak bisa berhenti menangis. Bahkan hingga hari berikutnya.
Mereka berdua kelelahan. Tapi setelah lewat akhir pekan, Owen menemukan sebuah rencana baru. Mereka akan mencari donor di Cina - dan ia minta Linda untuk melakukan kampanye. "Kita akan merancangnya untukmu. Seorang ibu yang pulang ke tanah kelahiran anaknya untuk menyelamatkan hidup anaknya - pasti orang-orang bakal bersimpati."
"Tidak," sahut Linda. "Kailee membutuhkan aku, tapi Cina tidak."
Tapi pilihan bagi Kailee sudah habis. Akhirnya, penjelasan Owen mengubah pikiran Linda. Meskipun amat sangat mustahil, ia setuju untuk membuka jalan perjuangan mereka menemukan seorang donor buat anaknya. Pada Februari 2003 ia terbang ke Cina dengan rencana yang tidak jelas dan hanya berbekal alamat Palang Merah di Beijing.
Hambatan dan rintangan untuk itu ternyata sungguh besar. Salah satunya adalah keyakinan orang-orang Cina bahwa tubuh seseorang itu seharusnya tetap utuh. Mereka takut, meski hanya memberikan setetes darah untuk di periksa, dan hanya beberapa ribu nama yang mau mendaftar menjadi donor sel punca darah.
Waktu yang dipilih Linda terbukti tepat. Upayanya itu didukung oleh pemerintah yang peka terhadap kecamatan international tentang anak-anak Cina yang terlantar. Sekarang ia menjadi seorang ibu angkat yang penuh terima kasih.
Sepanjang malam Kailee menjadi model poster untuk iklan program pendaftaran donor nasional. Linda ikut menjadi tenar. Kemana pun Linda pergi, orang-orang akan menunjuk dan memanggil, "Mama Kailee!" Pers mengikuti setiap geraknya.
Pemerintah menggunakan pengaruh kekuasaannya di belakang pendaftaran donor, khususnya lewat para pekerja layanan kesehatan. Tak lama setelah Linda meninggalkan Cina, sudah 50.000 donor terdaftar.
Begitu kembali ke Albuquerque, Kailee melanjutkan hidupnya yang sudah berada di ujung ajal. Deritanya bertambah ketika kucing kesayangnya, Rosie, mati oleh anjing milik tetangganya. Kailee sungguh sedih. Linda dan Owen mengkremasi Rosie dan membawa pulang abunya. Kailee tak banyak bicara. Kejadian itu terpatri di benaknya.
Setahun berlalu, dan Linda ragu apakah perjalanan ke Cina lagi akan membuahkan hasil. Dr. Margolis tetap menganjurkannya untuk pergi. "Berburu donor untuk Kailee seperti mencari jarum di tumpukan jerami," katanya. "Tapi jika Anda diberi kesempatan untuk menemukan jarum itu, maka jeraminya ada di Cina."
Linda kembali ke Cina, November 2003. Tapi tak lama setelah ia sampai di sana, kondisi Kailee kembali memburuk. Linda pun mempersingkat kepergiannya di Cina. Situasinya memaksa ia dan Owen membuat satu keputusan penting. Demi Kailee dan demi perkawinannya, mereka berdua akan pindah rumah dan menetap di Milwaukee.
Mendekati tutup tahun mereka pindah ke lantai atas sebuah apartemen tua di dekat RS Anak. Fasilitas di situ jauh di bawah ukuran mewah dibanding rumah cantiknya yang lama. Tapi, di sini Kailee jadi lebih dekat dengan Dr. Margolis.
Suatu hari di Februari, setelah mereka tinggal di situ, Linda dan Owen sedang membawa Kailee pulang dari rumah sakit dan melewati sebuah pemakaman. "Tempat apa itu?" ia bertanya.
Mereka menjelaskan bahwa itu kuburan, tempat orang-orang yang sudah meninggal di kubur. Kailee mengatakan keinginannya untuk berkunjung ke tempat itu sekali waktu agar ia tahu bagaimana rasanya berada disana. "Kita tunggu samapi udara tak sedingin ini, Sayang," jawab Owen.
Dengan kecerdasan di usianya, Kailee selalu mendengarkan percakapan antara kedua orang tuanya dan para dokter. Di rumah sakit, ia akan diam, pura-pura membaca buku atau menonton TV, tapi sebetulnya ia sedang mendengarkan, mencoba memahami masalah apa yang sedang ia hadapi. Dengan cepat, bocah yang tadinya supel itu berubah menjadi lebih serius dan kaku.
Setelah melewati pemakaman, ia berkata kepada Linda, "Mama, aku ingin dikremasi, jadi mama bisa membawa abuku kerumah seperti Rosie."
Akhirnya, dengan persetujuan keluarga, Margolis mengambil risiko melakukan transplantasi sel punca darah. Seorang perempuan Cina-Amerika berusia 52 yang tinggal di pesisir barat telah teridentifikasi sebagai donor yang memungkinkan. Ia memiliki 7 dari 10 faktor yang cocok dengan milik Kailee. Masih sedikit di bawah sempurna, tapi kemungkinan cocok lumayan besar.
Dr. Margolis memimpin transplantasi yang dilakukan pada 25 Januari 2005 di RS Anak itu. Kailee diisolasi dan diobati hampir sebulan di rumah sakit untuk mencegah reaksi yang merugikan. Ternyata, akhirnya, tubuhnya menolak sel-sel perempuan tersebut. Sekarang sudah jelas bahwa hanya yang benar-benar cocok yang dapat menyelamatkan Kailee.
Meski upaya kali keduanya di Cina tidak berhasil, pendaftaran donor tetap dilanjutkan di seluruh negeri yang luas itu.
Pada 2004, Wang Lin, dokter TCM (Traditional Chinese Medicine) di RS Umum Fuyang di timur Provinsi Zhei-Jiang, bersedia menjadi sukarelawan. Ia dan beberapa temannya pergi ke klinik di Fuyang untuk memberikan sampel darahnya. Sebagai pegawai pemerintah, Wang merasa yang dilakukan itu sudah tepat.
September tahun berikutnya, Wang sedang di dalam kereta hendak mengunjungi istrinya yang sedang hamil sembilan bulan dan bekerja di kota lain. Tiba-tiba ponselnya berdering dan tanpa disangka, peneleponnya adalah Palang Merah Cina.
Petugas memberitahu Wang bahwa darahnya dinilai sangat cocok dengan milik seorang bocah perempuan Cina yang tinggal di Amerika. "Bersediakah Anda mendonor sel Anda untuk menyelamatkan anak ini?"
Wang ragu sesaat sebelum ia menyatakan kesetujuannya. "Saya memang sudah mendaftar," jawabnya. "dan sekarang saya harus menjalani konsekuensinya."
Sewaktu bertemu istrinya, Wang menceritakan apa yang akan dilakukannya. Dengan nada datar, sang istri melarang Wang melakukan hal itu. Ia takut suaminya akan mengalami stroke seperti ayahnya.
"Ini aman, kok," Wang menyakinkannya. "Aku kan dokter. Bagaimana mungkin aku menolak?"
Dibutuhkan waktu beberapa minggu untuk mempersiapkan kedua pihak sebelum transplantasi dilakukan. Kailee dipersiapkan agar tubuhnya menolerir transplantasi. Dua hari sebelum sel punca diambil, para dokter di RS Dapei Beijing menyuntik Wang dengan obat-obatan untuk memaksa sel punca darah keluar dari sumsum tulang dan masuk ke aliran darah di tubuhnya.
Pada 16 Oktober 2005 Wang mengenakan baju rumah sakit berlengan pendek dan berbarang di atas dipan. Seorang dokter memasukkan jarum suntik yang bersambungan dengan sebuah selang kecil di lengan kanan dan kirinya. Maka, darah pun mengalir masuk ke mesin penyaring darah dimana sel punca akan diekstrak, lalu darah tersebut akan dialirkan kembali ke tubuhnya. Karena sel punca darah sangat jarang - hanya sekitar satu dari 10.000 sel - proses tersebut memakan waktu selama empat jam. Wang harus menjalani kembali prosedur tersebut keesokan harinya.
Pada 18 Oktober, saat Wang menjalani masa pemulihan, ia menerima kabar bahwa istrinya akan melahirkan. Ia segera memanggil taksi, pergi ke bandara, dan mengunjungi rumah sakit pada pukul 6.30 sore.
Begitu sampai di samping tempat tidur istrinya, dia diberitahu bahwa ibu dan bayinya dalam keadaan gawat. Ia berlari kecil di samping para perawat yang mendorong istrinya ke kamar operasi caesar. Bagaimana jika ia telah menyelamatkan nyawa seorang bocah hanya untuk membuang nyawa anaknya sendiri?
Disaat yang sama, sel punca miliknya sedang tersimpan di dalam sebuah kontener dalam perjalanan ke RS Anak di Milwaukee.
Untuk beberapa hari, Kailee mengonsumsi prednison dan obat-obatan lain yang mencegah agar sistem pertahanan tubuhnya tidak menolak atau menyerang sel punca milik Wang. Untuk memastikannya, Dr. Margolis memberinya satu dosis radiasi juga.
Transplantasi itu, yang disebut Margolis sebagai "transfusi sangat mulia", dilakukan pada 7 November 2005. Seluruh pengobatan, perawatan, dan transfusi, seluruh eskperimen dan pencarian donor lebur ke dalam 30-60 menit transfer sel punca dari seorang dokter muda di Cina keapda seorang bocah perempuan di Amerika - dua orang yang belum pernah sekalipun bertemu, tapi bisa berbagi keakraban dalam hal genetik.
Tanda-tanda awal dampak transplantasi terlihat bagus. Kemudian sesuatu terjadi - kadar darahnya berkurang. Padahal, prosedur sudah dilalui dengan tepat dan tubuh Kailee tidak menolak sel-sel milik Wang. para dokter harus mencoba lagi transfusi. Tapi masih maukah Wang melakukannya?
Jawaban dari ia adalah "ya."
Wang kembali lagi ke Beijing pada Februari 2006 untuk melakukan ekstraksi kali kedua. Di Milwaukee, Kailee kembali ditransfusi. Kali ini, sel-sel sehat Wang masuk ke dalam sumsum tulang dan menyatu lebih kuat ke dalam darah Kailee.
Setelah lebih dari empat tahun menderita, akhirnya tubuh kailee mulai memproduksi sel-sel darah yang cukup untuk dirinya sendiri.
Seratus hari setelah transplantasi kedua, Kailee diizinkan bertemu dengan sesama anak-anak dan bermain bersama mereka. Kesendirian Kailee berakhir sudah.
Desember 2007, Kailee, waktu itu berusia 10 tahun, sudah cukup kuat untuk bepergian ke Beijing, dimana pihak Palang Merah menggelar perayaan khusus dengan mempertemukan dirinya dengan seorang lelaki yang telah memberinya hadiah tak ternilai dari tubuhnya.
Tatkala MC memanggil Kailee dan kedua orang tuanya ke depan dan bertemu dengan Dr. Wang, hadirin pun memberikan applaus panjang. Tiba-tiba Kailee merasakan dirinya direngkuh oleh sepasang tangan yang kokoh. Wang, dengan air mata mengalir, mendekap erat dirinya. Wang merasa sudah menjadi ayah selain dari anak laki-laki berusia satu tahun, juga seorang anak perempuan yang sudah ia anggap sebagai anak.
Keduanya berada dalam pelukannya. Darahnya, bagaimanapun, mengalir kedalam tubuh anak itu.
Kailee membalas pelukan Wang, dan ia telah menyiapkan hadiah juga untuknya - sebuah ctatan diatas kertas yang diberi bingkai. Kertas itu bertuliskan : "You are my hero. I will love you forever."
Kailee sudah berumur sebelas tahun dan tumbuh menjadi praremaja yang anggun. Ia bermain sepak bola dengan Tillie, anjingnya, dan sesekali menantang ayah dan ibunya main catur. Ia juga menulis puisi. Syair-syairnya bernada suram dan merefleksikan apa yang pernah ia derita selama ini. Frekuensi kunjungan ke Dr. Margolis juga semakin berkurang.
Kailee menunjuk sepeda yang ia beri nama The Swings. "Ayo, kita main itu," serunya kepada seorang teman yang kemudian mengikutinya. Kailee menaiki sadel, mengayuhnya dengan kaki panjangnya, dan menjalankan sepeda itu mondar-mandir. Kedua bocah itu berteriak senang. Mereka mempercepat sepeda mereka. Kailee melepas tangan dari kemudi dan merentangkannya seolah hendak memeluk dunia dan terbang.
Pada 2003 Linda dan owen meluncurkan "Thanks Mom!", proyek untuk membantu anak penderita kelainan darah dan penyakit serius lainnya. Dengan kerja sama National Marrow Donor Program (MNDP), proyek itu kini menjadi bagian dari proyek baru MNDP, "Be the Match Registry". Jika Anda ingin bergabung, silakan klik www.kaileegetwells.com atau www.BeTheMatch.org
Sumber : Reader's Digest Indonesia edisi Juli 2009 (article) and www.kaileegetwells.com (pictures)


No comments:
Post a Comment